Senin, 14 Juni 2010

Fiksi VS Non Fiksi

Perbedaan Fiksi dan Non Fiksi

Dalam dunia kepenulisan, tulisan dibedakan menjadi dua macam, tulisan Fiksi dan tulisan Non Fiksi. Tulisan Fiksi adalah tulisan yang bersifat rekaan, karangan atau khayalan. Segala yang ditulis dalam tulisan fiksi bersifat sangat luas, sama luasnya dengan imajinasi manusia. Jenis tulisan fiksi antara lain adalah: puisi, cerpen, cerbung, cernak, novel, dll.
Sedangkan tulisan Non Fiksi adalah kebalikan dari tulisan Fiksi. Tulisan yang selalau didasarkan pada realita yang ada., mulai dari fakta sejarah, asumsi ilmiah, serta temuan-temuan kasus yang memang sungguh-sungguh ada di lapangan. Misal, Opini (Artikel), Esai, Kolom, kisah Biografi, Resensi, Berita, Laporan penelitan, dll.
Adanya perbedaan antara kedua jenis tulisan ini, maka ahirlah perbadaan secara teknis di dalam menuliskannya. Tulisan Fiksi misalnya lebih banyak mengedepankan peran imajinasi ketimbang akal atau logika. Kisah Harry Potter karya JK. Rawling, salah satu contohnya. Betapa karya fiksi jauh melampaui batasan nalar yang ada. Walau beberapa karya fiksi memang ada pula yang tidak bertentangan dengan nalar bahkan begiu realis (myata) sebagaimana gambaran kehidupan kita.
Jadi, perbedaan antara keduanya (fiksi dan Non fiksi) sebenarnya hanya terletak pada masalah factual atau tidak, imajinera tau tidak. Sehingga perbedaan antara keduanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya bahasa atau apapun selain masalah fakta dan imajiner.
Dengan demikian bisa saja tulisan non fiksi menggunakan gaya bahasa sastra, mendayu-dayu sebagaimana halnya yang sering kita temukan pada naskah-naskah cerita pendek atau novel. Tulisan non fiksi bisa saja menggunakan bahasa yang sangat serius, atau sangat santai, seperti buku Kambing Jantan karya Raditya Dika.
Dan secara teori, bisa saja cerpen atau novel menggunakan bahasa yang serius dan formal seperti skripsi atau karangan ilmiah. Di dunia jurnalistik pun mengenal istilah “jurnalisme sastra”, yakni penulisan berita (non fiksi) yang menggunakan gaya bahasa sastra, sehingga berita-berita yang kita temukan di majalah tertentu akan terasa seperti novel. Padahal yang ditulis di sana adalah Kisah nyata/fakta/non fiksi.
Memang, karena alasan tertentu, ada juga penulis yang memasukkan unsure-unsur fiksi kedalam tulisan non fiksi. Misalnya: Seorang wartawan menulis sebuah berita, lalu didalamnya ada wawancara imajiner dengan tokoh yang imajiner pula. Karena kadang, rekaan/fiksi tidak 100% imajinasi, ada campur baur juga dengan pengalaman batin seseorang. Sehingga kadang terdapan suatu fakta kecil didalamnya. Begitupun Fakta/sejarah/non fiksi tidak 100% didalamnya mengandung fakta. Karena hal tersebut merupakan hasil rekonstruksi orang-orang dari fakta-fakta yang ada.Maka kadang menggunakan hasil imajinasi yang logis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar